Tokoh NU Sambut Positif Kapolres Ngawi Tentang Pemberantasan Buta Huruf Al Qur’an
NGAWI. Pengasuh Pondok Pesantren
(Ponpes) Darul Mukhlisin Temulus Desa Kedungharjo, Kecamatan Mantingan, Ngawi,
KH. Ahmad Ulinnuha Rozy sekaligus Ketua PCNU Ngawi menyambut positif terobosan
yang dilakukan institusi kepolisian di daerah setempat. Menyusul inovasi baru Kapolres
Ngawi AKBP MB.Pranatal Hutajulu yang memberikan kebijakan terhadap anggotanya
khusus beragama Islam untuk lebih mendalami sekaligus menguasai baca tulis Al
Qur’an.
“Tentu kita mensuport positif dan terus
mendukung apa yang dilakukan beliau ini (Kapolres Ngawi-red). Sebagai langkah
maju apabila setiap anggota kepolisian yang beragama Islam bisa menguasai dan
bisa membaca Al Qur’an tentunya dilingkungan Polres Ngawi akan tercipta
kehidupan yang religi, adem dan tercipta kepribadian beraklaq karimah setiap
anggota kepolisian,” terang KH. Ahmad Ulinnuha Rozy via selular, Selasa
(16/01).
Dia menuturkan secara umum banyak sekali
penyebab masih banyaknya umat muslim di Indonesia yang masih buta baca Al Qur’an.
Diantaranya adalah kebutuhan mushaf Al Qur’an yang masih besar. Sehingga
kebijakan Kapolres Ngawi yang sangat inovatif tersebut sebagai salah satu
sumbangsih terhadap pemberantasan buta huruf Al Qur’an.
Sementara itu dalam waktu yang sama di
Masjid Miftahul Huda Polres Ngawi telah diadakan launching kegiatan dengan tema ‘Bebas Buta Baca Al Qur’an’
yang dibuka Wakapolres Ngawi Kompol Hartono. Ia pun berpesan, dalam program
pemberantasan buta baca Al Qur’an bagi anggota kepolisian yang muslim harus
dilakukan dengan penuh tanggungjawab dan keseriusan. Diharapkan akan bermuara
pada pembentukan pribadi yang lebih baik dari sebelumnya sehingga ilmunya
tersebut bisa diaplikasikan dengan tugas pokok sebagai anggota Korps
Bhayangkara.
Hal senada juga disampaikan KH. Miftahul
Ulum seorang ustdaz sekaligus pembimbing pemberantasan buta baca Al Qur’an Polres
Ngawi dari Sekretariat Tarsana Jalan Perkutut, Beran. Ia menekankan, kewajiban
menguasai wajib baca Al Qur’an memang perlu proses yang panjang dan harus
dilakukan dengan rasa kesabaran. Sebab, ilmu tajwid di Al Qur’an ada beberapa
macam yang harus dikuasai sehingga tidak mengurangi makna sebenarnya di dalam
Al Qur’an. (pr)

Post a Comment