Ini Alasan Kapolres Ngawi Kenapa Polisi Harus ‘Ngaji’ Lagi, Yuk Simak
NGAWI - Setelah seiring sekian waktu berjalanya
kebijakan ‘nyentrik’ khas Kapolres Ngawi AKBP MB.Pranatal Hutajulu tentang
pemberantasan buta baca Alquran, ternyata bukan sekedar inovasi tanpa alasan
dan dasar. Meskipun terobosan itu boleh dibilang satu-satunya yang dikeluarkan oleh
seorang Kapolres di internal Mabes Polri selama ini dan menjadi pilot project perdana.
Berikut ada beberapa alasan khusus yang
disampaikan Kapolres Ngawi AKBP MB.Pranatal Hutajulu saat di wawancarai
wartawan Siaga Indonesia wilayah Ngawi Didik Purwanto terkait kebijakanya
tersebut.
*Mengapa anda sebagai Kapolres Ngawi
begitu getol menerapkan kebijakan untuk ngaji lagi bagi polisi yang muslim
khusus mereka yang belum bisa baca Alquran?
-Bahwasanya ketika saya ditugaskan
menjadi Kasubid Paminal Bidang Propam di Polda Jawa Timur itu setiap menangani
kasus polisi nakal atau melanggar tidak lepas dari masalah yang harus
ditangani. Pembinaan anggota ini tidak lepas dari kompetensi yang harus
dimiliki. Didalam kompetensi seperti diketahui bersama itu ada skill (keahlian-red), knowledge (pengetahuan-red) dan etitut
atau sikap serta perilaku.
-Perlu diketahui skill dan knowledge itu
bisa dibina dan didapat dari sekolah-sekolah formal di internal kepolisian
termasuk pendidikan kejuruan (dikjur-red). Sedangkan etitut ini hanya bisa
didapat dari pembinaan akhlak melalui kegiatan-kegiatan keagamaan.
*Apa hubunganya etitut dengan tugas
kepolisian?
-Menurut Daniel Goleman seorang
psikoanalisis asal Massachusetts, Amerika Serikat pernah melakukan penelitian
yang dibukukan lewat buku sensasionalnya Emotional Intelegence bahwa yang
menentukan keberhasilan seorang manusia dalam hidupnya itu 80 persen ditentukan
oleh etitut atau kecerdasan dari emosi spiritual yang biasa dikenal dengan SQ (Spritual
Quotient) dan kecerdasan intelektualnya itu tidak kurang 20 persen.
-Berati kecerdasaan etitut atau SQ itu
kan sangat menentukan suatu keberhasilan. Nah, pengembangan SQ itu melalui
pembinaan keagamaan.
*Terus jika dikaitkan dengan SQ apa
hubungan horizontal dengan anggota kepolisian dalam hal ini tentang pemberantasan
buta baca Alquran, apa yang melatarbelakangi?
-Memang kenyataanya banyak anggota yang
muslim di jajaran Polres sama sekali belum mampu menguasai baca tulis Alquran
dan ini harus kita ungkapkan dan mereka harus di edukasi agar bisa mengaji.
*Kalau mereka (anggota-red) sudah mampu
menguasai baca tulis Alquran apa menjadi jaminan terhadap perilakunya?
-Dengan dia bisa mengaji tentunya dia
banyak mendapatkan pemahaman tentang agama, keimananya semakin kuat dan jelasnya
lagi akan menjauhi suatu tindak pelanggaran dan melayani masyarakat dengan
baik.
-Hal itu bisa dicapai setelah mereka
mengamalkan kebaikan-kebaikan didalam Alquran itu sendiri.
Sementara itu Daniel Goleman mengatakan
bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila
seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau
dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik
dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta
lingkungannya.
Lebih lanjut Goleman mengemukakan bahwa
kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam
memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan
menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.
Dengan kecerdasan emosional tersebut
seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan
dan mengatur suasana hati. Daniel Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan
bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan ketimbang IQ atau keahlian dalam
menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan.
Kemudian dengan langkah inovatif
tersebut hingga sekarang ini seluruh anggota di internal Polres Ngawi maupun di
jajaran Polsek terus digalakan gerakan pemberantasan buta baca Alquran. Tentu melibatkan
para ustad baik dari lingkungan sekitar maupun ustad dari internal kepolisian
itu sendiri.
Dan gerakan ini tersentral bagi anggota
kepolisian yang muslim namun belum begitu memahami dalam penguasaan baca tulis
Alquran sesuai tajwidnya. Dan Kapolres Ngawi AKBP MB.Pranatal Hutajulu sangat
berharap melalui inovasinya akan menjadi pilot project dalam skala nasional.
(pr)

Post a Comment