Tutup Brasbara, Tiga Bhabinkamtibmas Dapat Reward Dari Kapolres Ngawi
Indopolice || NGAWI. Polres Ngawi secara resmi menutup
program Pemberantasan Buta Aksara (Brasbara) yang telah berjalan selama 4 bulan
di Aula RM Notosuman Jalan Raya Ngawi Solo, Rabu (01/11).
Penutupan program
Brasbara sekaligus menandai tahap pertama Gerakan Nasional Percepatan
Penuntasan Wajib Belajar Dasar 9 Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara
(GNP-PWB/PBA) tahun 2017 berakhir.
Program dibawah leanding sektor Dinas
Pendidikan (Dindik) Ngawi akhir tahun ini telah berhasil menuntaskan 700 warga
buta huruf atau peserta wajib belajar yang tergabung melalui lembaga pendidika
non formal Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang tersebar hampir
diseluruh desa di wilayah Ngawi. Dan kegiatan ini melibatkan langsung sekitar
70 orang tutur yang tidak lain anggota Bhabinkamtibmas yang ditempatkan di
masing-masing desa.
“Sebetulnya kegiatan pemberantasan buta
aksara itu sendiri bagian program dari dinas pendidikan. Kami dari kepolisian
sifatnya hanya mendukung dengan menyediakan tutor dari para Bhabinkamtibmas.
Ternyata hasilnya pada tahap pertama kali ini luar biasa dan dinas pendidikan
sendiri akan menambah pagu anggaran untuk melanjutkan ke tahap kedua tahun
depan,” terang Kapolres Ngawi AKBP Nyoman Budiarja, Rabu (01/11).
Ia pun membenarkan telah memberikan
reward kepada tiga anggota Bhabinkamtibmas yang telah menjadi tenaga pengajar
pada kegiatan pemberantasan buta aksara tersebut. Mereka antara lain Aiptu Ayub
Yulianto dari Polsek Kedunggalar, Brigadir Sugianto dari Polsek Mantingan dan
terkahir Bripka Sunarto dari Polsek Padas.
Dengan reward yang diberikan itu ulas Kapolres Ngawi bisa menjadi
motivasi para Bhabinkamtibmas lainya untuk menjadi tenaga pengajar para
penyandang buta aksara.
Ditempat yang sama Abimanyu Kepala
Dindik Kabupaten Ngawi secara teknis guna memperoleh hak pendidikan dasar bagi
yang masih buta aksara pihaknya bersama Polres Ngawi melaksanakan pendidikan
itu melalui PKBM. Dan pelaksanaanya, setiap satu kelompok di desa bakal melibatkan
Bhabinkamtibmas selaku tutor dengan 10 orang warga selaku anggota maupun
peserta buta aksara.
“Nantinya setiap lulusan keaksaraan
dasar ini bisa melanjukan ke jenjang berikutnya yakni program keaksaraan usaha
mandiri dan bisa mengikuti ujian Paket A setara SD. Setelah selesainya tahap
pertama ini insyaallah tahun depan dibuka lagi untuk tahap kedua,” kata
Abimanyu.
Sisi lain Abimanyu mengakui, di Ngawi
tercatat ada 29.394 orang yang masih buta huruf atau buta aksara pada usia
15-59 tahun. Tentunya angka tersebut sangat memprihatinkan jika dilihat dari
data pembanding di Jawa Timur yang hanya 34.000 orang buta aksara dari 38
kabupaten dan kota.
Menilik dari kondisi yang ada, Dindik Kabupaten Ngawi
menggandeng jajaran kepolisian khususnya Polres Ngawi melalui nota kesepakatan
atau Memorandum of Understanding (MoU)
untuk mempercepat pemberantasan buta aksara. (pr)

Post a Comment