Header Ads

KKB di Tembagapura Diperkirakan Miliki Belasan Senjata


Indopolice || TIMIKA, PAPUA. Senin (06/11/2017). Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua diperkirakan memiliki belasan pucuk senjata api yang selama ini digunakan untuk melakukan teror penembakan terhadap kendaraan dan fasilitas milik PT Freeport.
 
"Mereka punya senjata api antara sepuluh sampai lima belas pucuk," jelas Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar di Timika, Senin (06/11).

Kapolda Papua memprediksikan jika selama ini KKB yang membaur dengan masyarakat di beberapa kampung sekitar Tembagapura yang berasal dari dua kelompok dengan jumlah personel  yang diperkirakan kurang lebih sekitar 30 orang.

Upaya untuk mengejar kelompok tersebut hingga kini masih terhambat, dikarenakan mereka selalu bersembunyi di balik lereng-lereng bukit terjal.

"Habis ganggu lari, habis ganggu lari. Mereka pintar lari dan bersembunyi di bukit-bukit karena mungkin sudah kebiasaan. Tapi pasti kami akan kejar terus," jelas Kapolda Papua.

Pada saat ini pasukan Bromob yang dibantu oleh TNI sudah berada di area Tembagapura untuk melakukan pengejaran terhadap anggota KKB yang sering melakukan aksi teror penembakan di wilayah tersebut.

Sabtu malam (4/11), KKB kembali melancarkan aksinya dengan membakar sejumlah gubuk liar milik para pendulang emas tradisional yang berjejer di sepanjang bantaran Kali Kabur, dekat perkampungan Utikini Lama dan Kimbeli, Distrik Tembagapura.

Sejak awal keberadaan gubuk-gubuk awal tersebut telah ditertibkan oleh aparat karena dianggap dapat membahayakan keselamatan para pendulang emas tradisional.

"Yang mereka bakar itu rumah-rumah kayu di pinggir sungai yang dibuat oleh para pendulang. Itu memang daerah terlarang, tapi selama ini para pendulang bandel. Rupanya mereka juga menjadi sasaran kelompok ini," jelas Kapolda Papua.

Disamping itu, aparat keamanan telah memberikan ultimatum kepada para pendulang tradisional segera meninggalkan kawasan pendulangan emas tradisional yang ada di sepanjang aliran Kali Kabur guna memudahkan melakukan pengejaran KKB. Namun ultimatum tersebut sampai saat ini belum ditanggapi para pendulang emas tradisional.

"Pendulangnya tidak mau, kita sudah imbau tapi mereka tidak mau. Mungkin karena di situlah lokasi mereka mencari makan, padahal daerah di sepanjang bantara kali itu sangat berbahaya. Sudah beberapa kali kejadian longsor sampai menelan korban jiwa," jelas Kapolda.

"Pendulangnya tidak mau, kita sudah imbau tapi mereka tidak mau. Mungkin karena di situlah lokasi mereka mencari makan, padahal daerah di sepanjang bantara kali itu sangat berbahaya. Sudah beberapa kali kejadian longsor sampai menelan korban jiwa," jelas Kapolda Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar.

(si/lm/rp)

No comments

Powered by Blogger.